Wednesday, April 9, 2014

Melacak Jejak Teroris Global



Pada malam tahun baru 2004 lalu selain terjadi gelegar suara mercon dan kembang api, konon juga terjadi suara baku tembak di Ciputat antara pasukan Densus 88 Polri dengan kelompok terduga teroris yang mengakibatkan (jika tidak keliru) enam orang terduga teroris tewas. Mereka ini diduga sebagai kelompok teroris yang selama ini menyerang para polisi, hingga ada beberapa polisi yang tewas juga.
Kabarnya, pada saat pemakaman para terduga teroris tersebut ada spanduk keluarga yang memuat kalimat: “Syuhada Ciputat kami akan teruskan perjuangan kalian dengan tetes darah-darah kami. Tidak ada satu tetes pun darah kaum muslimin yang gratis”. Artinya, kasus tersebut menimbulkan dendam di kalangan keluarga dan kelompok para terduga teroris tersebut. Sama halnya dendam para polisi dan keluarganya ketika ada polisi yang dibunuh oleh teroris. Dalam hal seperti itu, Dom Helder Camara mengatakan, “Ketika kekerasan disusul dengan kekerasan, dunia jatuh ke dalam spiral kekerasan.”
Kejadian tersebut bukan satu-satunya kejadian. “Perang” antara Kepolisian dan para teroris sudah lama terjadi. Kita tentu masih ingat gembong teroris bernama Azhari asal Malaysia juga berhasil dibunuh oleh pasukan polisi.

Jejak terorisme

Masalah teror tersebut bukanlah masalah lokal. Jaringan teroris yang ada di Indonesia merupakan bagian dari jaringan global. Lalu, mulai kapan terjadi teror yang kemudian menjadi jaringan terorisme global? Dengan keterbatasan pengetahuan sejarah saya, akan saya coba memulainya dari titik sejarah kolonialisme  dunia.
Namun pertama-tama saya perlu saya sampaikan sebuah hipotesis bahwa spiral teror di dunia yang paling sulit dipatahkan adalah karena faktor agama dan ideologi, sedangkan faktor warna kulit ataupun etnis cenderung lebih mudah berakhir. Barangkali karena faktor warna kulit dan etnik bisa perlahan-lahan lenyap dengan pembauran maupun perkawinan antar etnik.
Johan Galtung (1996), intelektual Amerika Serikat yang menentang invasi rezim Bush ke Irak, dalam bukunya ia bertanya: di mana kita dapat menemukan kunci kekerasan? Ia menjawab sendiri, bahwa kuncinya ada pada agama dan ideologi, karena orang membunuh dengan alasan agama dan ideologi. Namun Galtung juga menyatakan bahwa tidak semua agama bersifat keras. Ada agama yang menganjurkan nonkekerasan.
Menurut saya, teori Galtung itu perlu sedikit diluruskan, bahwa pada agama dan ideologi terdapat tafsir yang bermacam-macam, terdapat mazhab-mazhab pemikiran/tafsir, sehingga dalam sebuah agama juga terdapat mazhab keras dan mazhab nonkekerasan. Begitu pula dalam ideologi juga terjadi yang namanya pembaharuan-pembaharuan maupun mazhab. Marxisme dalam pandangan Soekarno contohnya berbeda dengan Marxisme dalam pandangan Muso. Liberalisme juga mengalami perubahan dengan adanya neoliberalisme. Pancasila di tangan Soekarno berbeda tafsir dengan Pancasila di tangan Soeharto. Dengan demikian, terkait dengan agama dan ideologi, kekerasan terjadi lebih didasari pada paradigma, watak manusia dan motifnya dalam melakukan kekerasan. Ambisi kekuasaan, baik secara politik atau ekonomi menjadi motif dominan dalam terorisme.
Jika kita bertanya, kapan manusia mulai melakukan teror? Kitab-kitab suci agama sudah menggambarkan bagaimana perilaku raja-raja kejam yang meneror rakyatnya sehingga memunculkan perlawanan yang dipimpin para nabi atau rasul yang perlawanan itu juga dengan kekerasan. Dalam kitab Ramayana terjadi perang habis-habisan hingga memunahkan salah satu pihak, tentu dengan kekerasan. Hal itu terjadi karena adanya saling teror, seperti contohnya Rahwana yang menculik Sinta, lalu Hanoman membakar Alengka.
Dalam sejarah kekuasaan Alexander Agung di kerajaan Makedonia melakukan perluasan wilayah kekuasaannya dengan menyerang negara-negara atau bangsa lainnya, tentu dengan kekerasan alias teror. Lalu kerajaan Romawi kuno di Eropa meluaskan wilayah kekuasaannya sampai ke luar Eropa juga dengan kekerasan-kekerasan dan pembunuhan-pembunuhan. Begitu pula kekhalifahan Bani Umayah dan Bani Abasyiah melebarkan kekuasaannya hingga ke sebagian Eropa juga dengan menyerang dan membunuhi bangsa-bangsa yang tidak mau tunduk sukarela. Hingga terjadi Perang Salib yang begitu lama, juga terjadi saling teror.
Setelah Eropa gemilang dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka terjadi Revolusi Industri di Inggris, selanjutnya Inggris melakukan kolonialisasi ke seluruh dunia juga dengan teror-teror dan kekerasan kepada bangsa-bangsa lain yang tidak mau dikuasai. Rekan-rekan Inggris seperti Spanyol, Portugis, Belanda juga melakukan hal yang sama, menguasai dan meneror bangsa-bangsa lain di dunia. Pembasmian terhadap bangsa Indian dan Aborigin adalah teror yang termasuk terbesar dalam sejarah manusia. Tetapi bangsa Indian dan Aborigin mungkin tidak lama menyimpan dendam kepada bangsa kulit putih karena telah banyak terjadi rekonsiliasi dan pembauran. Kita lupa untuk menyebut bahwa bangsa Indian dan Aborigin serta bangsa kulit hitam di Afrika Selatan adalah bangsa yang paling sabar di dunia.
Agama dan ideologi menjadi alat untuk mengobarkan perang atau teror. Kolonialisme Eropa ke seluruh dunia terkenal dengan misi gold, glory and gospel. Ada cita-cita kekayaan, kejayaan dan penyebaran agama. Kapitalisme menjadi ideologi tentang cita-cita kemakmuran yang paling kejam, hingga sekarang. Ia bisa menguasai para pemuka agama dan para pemuka negara.
Dalam sejarah Eropa, bukan hanya kapitalisme yang meneror dunia, tetapi Marxisme mazhab  Stalisnisme di Soviet juga melakukan teror. Siapapun yang menjadi oposisi Stalin akan dibunuh. Siapa yang bertindak sebagai oposisi dianggap sebagai oposan sejarah, ahistoris, ahuman. Galtung mengategorikan ini sebagai homo stalinensis.
Dengan menelisik jejak sejarah terorisme tersebut, kita dapat mengambil sebuah gambaran bahwa sebenarnya terorisme sudah menjadi bagian sejarah manusia sejak kuno hingga modern ini, terutama dengan motif kekuasaan, baik kekuasaan ekonomi, politik dan agama. Ideologi hanya menjadi alat.
Pada zaman Perang Dingin, setelah berakhirnya kolonialisme maka muncul neokolonialisme. Pada masa Perang Dingin tersebut Amerika Serikat (AS) mempunyai agenda atau kepentingan membendung bahkan menghabisi komunisme. Karena itu, AS juga membantu para gerilyawan Afghanistan dari segi dana, peralatan maupun latihan militer, dalam melawan pendudukan Soviet di Afghanistan sejak 1979.
Turut membantu Afghanistan waktu itu juga Arab Saudi, Pakistan dan Cina. Osama bin Laden dari Arab Saudi yang kemudian dikenal sebagai pemimpin AlQaeda termasuk pejuang muslim luar Afghanistan yang membantu perjuangan gerilyawan Mujahidin di Afghanistan, meskipun konon waktu itu partisipasi Osama bin Laden tidak termasuk program bantuan CIA kepada Mujahiddin.
Dalam berita BBC.co.uk tanggal 20 Juli 2004 dijelaskan bahwa Osama bin Laden merupakan penghubung bantuan AS dan Arab Saudi kepada Mujahiddin Afghanistan. Menurut beberapa analisis, Osama bin Laden dilatih oleh CIA. Artinya, sebenarnya organisasi AlQaeda yang disebut sebagai organisasi teroris dunia itu pada mulanya merupakan sekutu AS dalam memerangi komunis Soviet di Afghanistan.
Lalu mengapa kini “seolah” AS menjadi musuh besar AlQaeda? Itu bukan perkara sulit untuk dijawab, sebab setelah kepentingannya berseberangan maka sekutu bisa menjadi lawan. Saat Perang Teluk, AS membantu Irak melawan Iran. Saat itu Saddam Husein menjadi sekutu AS. Tapi kemudian AS menghabisi rezim Saddam Husein setelah dianggap perlu bagi AS untuk memusnahkannya.
Setelah Soviet jatuh, otomatis kekuasaan rezim homo americanus alias homo occidentalis in extrimis (pinjam istilah Galtung) ini perlu alasan-alasan untuk meyakinkan keamanan negaranya dan harus punya alasan-alasan untuk “menaklukkan” bangsa-bangsa lain yang menjadi targetnya. Jika kali ini gagal di Suriah karena dijegal Rusia dan sekutunya maka masih ada waktu dan tenpat lainnya yang harus digarap.

Terorisme abadi

Sistem kerja intelejen global mengenal yang namanya sel terputus. Firqoh-firqoh Islam garis keras yang dididik melakukan kekerasan, berasal dari pesantren-pesantren yang sumber dananya misterius, dengan tafsir dalil-dalil agama yang mengarah pada kekerasan bisa mungkin merupakan sel-sel jaringan yang terputus, yang tidak disadari oleh mereka yang didoktrin menjadi para syuhada dengan janji-janji surga dengan para bidadarinya yang cantik.
Terorisme di Indonesia merupakan bagian dari jaringan global itu. Saya yakin, hukum nasional ini tidak pernah akan dapat menyelesaikan perkara-perkara terorisme. Segala tindakan pemberantasan terorisme juga tidak akan berhenti begitu saja, sebab terorisme akan terus berjalan. Selama para pejuang pelawan terorisme tidak pernah bisa tahu asal bantuan/dana dan tidak mampu menghentikan pasokan dana-dana misterius terhadap sekolah-sekolah kekerasan itu maka produk-produk kekerasan akan terus berjalan.
Dendam-dendam kesumat di tingkat-tingkat bawah terus membara. Perang akan terus berlanjut. Itulah program dari para “lelembut” yang tidak tampak dilihat dengan mata biasa.
Sebenarnya terorisme bukan hanya berupa teror langsung dengan akibat langsung. Kita juga mengalami ecoterorism, seperti contohnya pembasmian pemukiman di wilayah konsesi Blok Brantas Sidoarjo yang dikenal dengan kasus lumpur Lapindo, kasus pembasmian pemukiman di sekitar Buyat Pante Sulawesi Utara di wilayah konsesi Newmont, kasus pembasmian kultur dan komunitas di wilayah konsesi Freeport di Papua, juga teror terhadap warga Aceh di wilayah konsesi Exxon, dan lain-lain. Kasus-kasus teror oleh tirani kapitalisme begitu akan abadi. Dan kita harus mengakui, tidak bisa berbuat apa-apa!

Psikopat Asbirin Maulana Owner TK-SD Unggulan Al Yaklu Arjosari Malang



Pernahkah Anda bertemu atau kenal dengan seseorang yang memiliki KEPRIBADIAN GANDA atau PSIKOPAT? Saya pernah kenal dengan seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Namun, tidak etis dan sangat melanggar kode etik jika saya ‘membongkar’ identitas dari seseorang tersebut. Duh…, serius dan sangat menegangkan sekali nih sepertinya yah…xixixi
By the way, apakah Anda mengerti apa yang dimaksud dengan kepribadian ganda? Secara eksplisit, kepribadian ganda adalah pemecahan kepribadian atau biasa disebut dengan alter ego, merupakan suatu keadaan di mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Dan kepribadian itu biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu atau memiliki dua pribadi sekaligus. Yang menyeramkan terkadang si penderita tidak tau bahwa ia memiliki kepribadian ganda. Dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih menyeramkan lagi adalah kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya. Wewww…
Sebab itulah mari kita introspeksi diri sama-sama, apakah tanpa kita sadari, diri kita berpotensi memiliki kepribadian ganda ? Jangan sampai orang-orang yang ada di sekitar kita merasa dirugikan karena kepribadian yang membahayakan ini.
Umumnya, kepribadian ganda terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor penyebab. Yang saya tahu adalah disebabkan karena berasal dari keluarga yang –maaf- broken home, mendapat perlakuan kasar di masa kecil [pelecehan seksual, kekerasan fisik, dll].
Seseorang yang memiliki kepribadian ganda, jika dilihat dan diperhatikan, kita tidak bisa langsung menebak apakah seseorang tersebut memiliki kepribadian ganda atau tidak. Sebab penampilannya tampak seperti orang-orang yang normal dan tidak sinting tentunya. Dalam hubungan sosial juga demikian. Tidak ada sama sekali keanehan yang diperlihatkan. Malah biasanya seseorang dengan kepribadian ganda, sangat baik dan ramah sekali terhadap siapa pun lawan bicaranya. Dengan catatan bahwa tetap terjadi hubungan komunikasi yang sehat. Sebab seseorang yang memiliki kepribadian ganda, selalunya ingin menang dalam perdebatan dan tidak peduli dengan siapa ia berbicara. Pendapat orang yang memiliki kepribadian ganda, selalu merasa bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan tidak boleh dibantah. Jika dibantah dan didebat terus-menerus, Ia akan berubah menjadi Serigala atau Macan Tutul yang siap menerkam. hhiiiii
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.
Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun.
Hare berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, sangat gemar memutar balik fakta, menebar fitnah (dan ini sudah memakan korban puluhan orang jamaahnya), dan penuh kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri dan keluarganya.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan mencuri harta / uang. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.
Berdasarkan hal tsb masih ada sekitar 80 persen psikopat yang beredar di sekitar kita, bagaimana cara mengenali mereka?, berikut 10 ciri-ciri penderita psikopat (Coba anda bayangkan ciri-ciri ini pada Asbirin Maulana/AM alias Sukirman Purwokerto) :


1. Sering berbohong, fasih, dan dangkal
Psikopat sering pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Sering kali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya. Itulah yang kami alami di dalam “jeroan” Al Ya’lu International Outlook School Arjosari Malang dan ciri-ciri ini cocok pada pribadi ownernya, Asbirin Maulana.

2. Pada awalnya menampilkan sikap yang menarik, cenderung dibuat-buat, mempesona, dan menebarkan sikap hangat.
Inilah yang membuat orang mudah memercayainya, dan dengan kepercayaan itu mereka mencelakai atau menipu korbannya. Ciri-ciri ini cocok pada pribadi Asbirin Maulana. Padahal semua pura-pura semata untuk menarik simpati mereka.

3. Beranggapan dirinya yang paling penting dan harus diistimewakan
semuanya berpusat pada dirinya, pokoknya untuk saya, pokoknya milik saya, pokoknya saya dan saya. Setelah mengalami hidup dalam kemelaratan di zaman pelariannya setelah kasus Tanjung Priok 1984, balas dendamnya ini disalurkan dengan memeras tokoh-tokoh orang lama jamaahnya. Setelah puas memeras dan memfitnah, maka dibuangnya teman-teman lamanya ini dengan segala cara agar TIDAK ADA TOKOH TANDINGAN di sampingnya yang akan mengikis gambaran “kehebatan” nya. Intinya kembali pada EGO SENTRISME diri pribadi dan keluarganya. Ciri-ciri ini sangat cocok pada pribadi Asbirin Maulana dan keluarganya. Hukum islam ga mempan terhadap perilaku istri-istrinya. Tajam ke bawah..... wualahhhh ga konsisten dunk..... isuk tempe sore dele, mencla mencle omongane- kata orang jawa.

4. Sering memperlihatkan perlakuan yang impulsif (meledak-ledak),
sulit menunda dan mengendalikan emosi. Kalau punya keinginan harus sekarang, kalau tidak akan marah atau mengamuk. Banyak kejadian di “dapur-nya” Al Ya’lu International Outlook School Arjosari Malang. Banyak bukti yang tidak dapat disangkal dan dialami oleh hati jamaahnya yang lugu-lugu dan bening. Ciri-ciri ini cocok pada peristiwa yang mengelilingi pribadi Asbirin Maulana dan keluarganya. (Ibu Lulus kok nasib Anda sial banget yaa...... dapat suami seperti Asbirin). Kemana akal sehat Anda? Kemana perasaan Anda? Sebelum maut menjemput, sadarkanlah hati dan otak Anda serta istri-istri madu lainnya.

5. Hubungan pertemanan atau hubungan sosial yang singkat
sering ganti-ganti pasangan asmara atau ganti-ganti pekerjaan. para psikopat tidak menginginkan hubungan jangka panjang karena sikap mereka yang lebih menyukai orang-orang baru yang dapat dengan mudah mereka perdaya. Ciri-ciri ini cocok dengan kepribadian Asbirin Maulana.

6. Kurang tanggung jawab atas perbuatannya
berani mengambil keputusan berisiko dan tidak dapat belajar dari pengalaman, selalu diulang terus, meskipun telah diberi hukuman atau peringatan. Ciri-ciri ini cocok dengan kepribadian Asbirin Maulana.

7. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah
Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli. Ciri-ciri ini pas dengan sifat Asbirin Maulana.

8. Kurang empati
Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya. Temasuk memotong kepala Agus Setiantoro dengan Dumptruck tempo hari. Ciri-ciri ini jelas melekat dalam kepribadian Asbirin Maulana.

9. Impulsif dan sulit mengendalikan diri
Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele. Beda dengan maqom “imam” yang disandangnya.

10. Manipulatif dan curang
Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin". Gagal memperkosa anak buahnya yang sudah bersuami.

11. Hidup sebagai parasit
Ia memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya. Setelah memeras “keringat dan otak” sekian banyak pengikutnya, dia lebih senang memilih orang-orang baru-lugu-jujur-mukhlis (dan tentunya mereka tidak tahu sejarah masa lalunya AM) dan mudah diperdaya ketimbang mempertahankan orang-orang lama yang terlalu banyak tahu dan tempe apalagi banyak ayam.


Mengenali Ciri-ciri Psikopat pada orang anak-anak keturunan Asbirin Maulana (AM)

Ada 18 orang anak-anak keturunan Asbirin Maulana. Sebagian besar bersekolah di TK-SD Unggulan Al Yaklu Arjosari Malang. Beberapa anak keturunan AM mengidap penyakit ini. Ada anggapan bahwa lahirnya seorang psikopat berkaitan dengan temperamen masa kecil si anak terutama sifat anak yang terlalu berani dan tidak punya rasa takut. Tapi ternyata gejala psikopat bukan hanya dari gangguan temperamen tapi lebih karena fungsi kognitif di otaknya yang tidak bisa memproses isyarat tertentu. Lihatlah sekeliling anda. Buka mata dan telinga.

Penelitian baru yang dilakukan menunjukkan bahwa akar dari gangguan tersebut dapat berasal dari dalam pikiran bawah sadar. Seperti dilansir dalam The Huffington Post, Minggu (18/9/2011) para peneliti Patrick Sylvers dari University of Washington dan Patricia Brennan serta Scott Lilienfeld dari Emory, menemukan psikopat mungkin terjadi karena otak kurang dapat melakukan 'pemrosesan preattentive'.

Secara teoritis, jika anak-anak tidak memiliki 'pemrosesan preattentive ini dalam proses berpikirnya, mereka tidak akan pernah belajar memecahkan kode tanda-tanda bahaya. Rasa tak kenal takut ini akan berkembang dan akibatnya, si anak akan tumbuh dewasa dengan kegagalan menggunakan hati nurani dalam bersosialisasi. (kami ingat saat indoktrinasi NII-PISWA Al Yaklu Arjosari, para jamaahnya dilarang menggunakan perasaan atau hati nurani).

Untuk teori tersebut ilmuwan melakukan pengujian terhadap 88 anak laki-laki berusia 7 hingga 11 tahun yang pernah bermasalah di sekolah maupun di rumah. Anak-anak ini dipilih berdasarkan ciri-ciri yang disebut 'callous unemotionality' atau tak punya perasaan emosional.

Ciri-ciri ini termasuk mengabaikan kebutuhan orang lain, kurangnya rasa penyesalan dan empati, mirip dengan ciri-ciri gangguan pada orang dewasa. Peneliti lalu menguji impulsifitas dan gangguan perilaku yang sesuai dengan tanda-tanda narsisme seperti banyak membual, yang juga terlihat pada kebanyakan psikopat dewasa.

Setelah pemeriksaan ini, para ilmuwan memberikan anak laki-laki tes visual untuk mengukur proses emosional sadarnya. Peneliti ingin melihat apakah subjek lebih lambat menyadari wajah-wajah menakutkan yang melintas cepat sehingga tidak terekam oleh pikiran sadar, dibandingkan dengan anak laki-laki normal pada usia yang sama.

Jika hasilnya ya, maka ini akan menjadi bukti bahwa anak-anak yang bermasalah itu tidak memproses isyarat mengancam dalam pikirannya. Para peneliti juga menunjukkan wajah bahagia, jijik dan netral sebagai perbandingan.

Hasilnya, menunjukkan bahwa anak-anak dengan ciri-ciri psikopat memiliki kekurangan dalam pemrosesan kognitifnya untuk menyadari isyarat tertentu, terutama isyarat ketakutan dan isyarat jijik.

Temuan yang dimuat online dalam jurnal Psychological Science ini menunjukkan bahwa anak-anak yang bermasalah memiliki gangguan dalam mengenali segala jenis bahaya sosial dengan cepat.

Mungkin yang paling utama, psikopat tidak mempunyai rasa takut dihukum, sehingga sangat sulit bagi orangtua atau orang lain untuk mengajarinya hal-hal yang benar dan salah. Ciri ini juga didap oleh para teroris seperti Imam Samudra. Mukhlas, Amrozi, Azhari, dan Abu Bakar Baasyir, Abdullah Sungkar serta Panji Gumilang NII Az Zaitun Indramayu, Osama bin Laden, Taliban, terorist Al Qaedah dan sebagainya.

Pada teori yang disebut 'hipotesis keberanian para ahli masih menyisakan beberapa pertanyaan. Para ahli berpendapat kemungkinan masalahnya lebih mendasar yakni neurologis (saraf otak). Psikopat tidak responsif terhadap isyarat yang membangkitkan rasa takut.

Menurut teori ini, psikopat tampaknya tak punya rasa takut karena mereka tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang biasanya membuat orang takut. Teori ini menekankan pentingnya intervensi klinis agar anak-anak berlatih memperhatikan isyarat emosional di sekitar mereka secara sadar. Asal tahu saja banyak sekali orang yang mengalami gangguan jiwa psikopat yang tidak terdeteksi karena umumnya berperilaku seperti orang normal biasa. Seorang psikopat bisa begitu misterius dan sulit ditebak.

Perilaku psikopat kadang cukup menawan, bahkan sopan dan jarang bersikap emosional. Meskipun melakukan kejahatan brutal psikopat sama sekali tidak menunjukkan empati atau hati nurani yang bersalah. Itulah yang membuat psikopat begitu misterius dan sulit dipahami yakni kurang memiliki perasaan seperti halnya manusia yang normal.

Berdasarkan analisa, penulis membagi psikopat di dalam tiga kategori.
1.Psikopat ringan
2.Psikopat sedang
3.Psikopat berat
ad.1.Psikopat ringan
Yaitu pengidap psikopat yang melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari norma-norma sosial.
Contoh
Berdasarkan hasil survei di Amerika, 1 dari 8 Facebooker adalah pengidap psikopat.
Ciri-cirinya:
1. Sering berbohong : menggunakan foto profil palsu, nama palsu dan data palsu
2. Egosentris : Enggan menerima saran-saran positif dan suka membantah
3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah:  suka menyerang pribadi pembuat status tanpa merasa bersalah
4. Senang melakukan pelanggaran: suka memuat foto porno, foto tidak sopan, suka membuat status yang tidak layak dibaca
5. Sikap acuh tak acuh: Suka membuat komentar yang bersikap sinis
6. Kurang empati: merasa lebih tahu, lebih mengerti dan merasa lebih pintar dari pembuat status lainnya
7. Agresif : suka mencela status dan penulis status. Bahkan, suka menggurui.
8. Impulsif dan mudah bereaksi : jika ada status yang bernada provokatif, Facebooker tersebut langsung bereaksi keras.
9. Tidak mampu bertanggung jawab : kalau melakukan kesalahan di Facebook, tak pernah meminta maaf
10.Manipulatif: kalau ditegur Facebooker lain, slalu cari-cari dalih atau alasan
ad.2.Psikopat sedang
Yaitu pengidap psikopat yang melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari norma-norma hukum.
Ciri-cirinya
1. Sering berbohong: suka menipu, pungli, korupsi, nepotisme,suap, sogok
2. Egosentris :  suka memalak atau memeras
3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah: selalu menguangi perbuatan jahatnya
4. Senang melakukan pelanggaran:  suka melakukan tindakan kriminal perdata
5. Sikap acuh tak acuh: tidak takut ancaman hukuman (tapi malah saat ini melarikan diri bersembunyi dari jamaahnya dengan alasan super sibuk bisnis, sibuk banyak istri, banyak rumah, sibuk banyak dosa –hehehehe- tanya kenapa?)
6. Kurang empati:  suka mempermainkan perasaan orang lain
7. Agresif: suka memaksa
8. Impulsif dan mudah bereaksi : langsung reaktif tanpa mau mendengarkan keluhan orang lain
9. Tidak mampu bertanggung jawab : selalu menghindar dari pertanggungjawaban. Menimpakan sebuah kegagalan pada anak buahnya, bahkan tangan kanannya. Cuci tangan berlagak bego tak tahu menahu dan sebagainya.
10. Manipulatif: suka cari-cara alasan dan pembenaran atas perbuatan kriminalnya
ad.2.Psikopat berat
Yaitu pengidap psikopat yang melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari norma-norma agama
Ciri-cirinya:
1. Sering berbohong: walaupun sudah disumpah atas nama Tuhan, tetapi tetap berbohong (di depan forum pengadilan yang diadakan untuk skenario ”pembuangan” istrinya Purwati di VEDC Tahun 1996 agar dapat menyelamatkan harta emas rampokan). Rahasia ini tidak diketahui Sukirman-Langgeng dan elit-elit Al Yaklu lainnya. Dengan berlinangan air mata ”buaya” untuk menunjukkan pada jamaahnya bahwa dia jujur. Padahal semua sandiwara.
2. Egosentris : merasa pahamnya sendiri (NII PISWA) paling sempurna
3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah: jika berkata tidak benar (munafik) dan suka ingkar janji walaupun menggunakan nama Allah atau mengucapkan kalimat “Insya Allah”
4. Senang melakukan pelanggaran : berzina (AM jajan saat di pelarian dalam pengejaran Intelejen saat ini), judi, lesbian, homoseks (seorang jamaahnya dituduh homoseks sesama pekerja warung makannya, lalu dihukum cambuk, tapi kini dijadikan ”bos” Rumah Makan Ulu Juku Makassar), dll.
5. Sikap acuh tak acuh : tidak mau menghargai penganut paham / agama lain
6. Kurang empati:  membenci suku lain, paham aliran lain, etnis / ras / bangsa lain dan antar golongan lain secara sembarangan (gebyah uyah).
7. Agresif : melakukan perkosaan (bahkan terhadap istri2 nya dengan membayangkan mereka sebagai bintang film porno yang kerap ditontonnya diam-diam), pembunuhan (Suud-Bangil dan Agus Ireng Setiantoro), perampokan (yang di toko emas Ponorogo, masih ingat kan?), perusakan harta pribadi jamaahnya (barang-barang milik jamaah diperas sampai rusak, sementara milik keluarganya di simpan digunakan jika sangat penting mendesak), penyiksaan,
8.Impulsif dan mudah bereaksi : bersikap anarki terhadap hal-hal yang tujuannya mungkin baik, tetapi caranya salah dan tidak mengikuti syariah tuntunan ulama
9. Tidak mampu bertanggung jawab : melakukan kejahatan dengan dalih membela agama atau demi agama.
10. Manipulatif: menipu jamaahnya dengan skenario tertentu untuk kasus tertentu.
Indikator awal
Gejala, ciri-ciri dan dan analisa di atas jika diterapkan kepada orang lain, sifatnya masih merupakan “indikator awal”. Tingkat kebenarannya masih 50%. Untuk membuktikan kebenarannya apakah seseorang pasti psikopat ataupun bukan psikopat, perlu observasi dan diagnosa lebih lanjut oeh ahlinya. Diagnosa bisa dilakukan secara medis dan atau psikologis dan membutuhkan waktu yang cukup. Meskipun demikian, indikator awal biasanya cukup bisa dijadikan gambaran yang sebenarnya. Semoga bermanfaat.
Penutup
Akhirul kalam fil blog.... al afwu minkum, wassalamu alaikum hai saudara-saudaraku yang tertipu dan diperbudak di Al Ya'lu, semoga kalian segera tersadar dari segala bentuk tipuan syaiton asbirin Maulana wa ahlahu (dan keluarganya), wa banana-hu (...dan dari pisangnya, maaf bahasa campuran inggris-arab....), wa sayyiatuhu (dan keburukan-keburukannya Asbirin), wa syiatuhu (dan syiah-syiah pengikutnya pembela Asbirin)

Diolah kembali dari sumber


Saturday, March 22, 2014

Ketika Tuhan Memilihmu untuk Menuliskannya

Sadarkah kita akan takdir kita? Tahukah apa yang akan menjadi masa depan kita? Dan apakah kita akan tahu apa yang akan kita tuliskan di masa depan kita?  Pernahkah kita merenung dan memikirkan tentang ini?
Suatu hari kita akan mengalami mati ide. Tidak tahu apa yang harus dituliskan dan cerita apa yang akan dirangkai. Kita akan merasa kesal karena buntu. Namun di saat itulah seharusnya kita melepaskan sejenak jari-jari kita untuk menguntai kata dan kalimat. Biarkan kita beristirahat sejenak dari setiap rutinitas kita di depan layar untuk mengayukan jemari menjadi sebuah kisah. Karena sesungguhnya Tuhan sedang mengistirahatkan kita sejenak sebagai seorang penulis.
Tuhan telah menyiapkan sekian banyak kisah yang tidak terhingga, telah diputuskanNya siapa akan menulis apa. Jadi kenapa harus takut kalau kita tidak akan bisa menulis. Dunia menulis terlalu rumit, terlalu kompleks dan terlalu sederhana untuk dimengerti. Milyaran orang di luar sana berlomba-lomba menuliskan apa saja yang memang sesungguhnya telah menjadi bagiannya.
Tapi apakah dunia menulis adalah sebuah arena lomba? Siapa pun, di mana pun, kapan pun, setiap orang berhak menuliskan apa saja yang ingin dituliskannya. Kita tidak berhak melarang bahkan ketika tulisan tersebut asusila. Namun tetap menulis harus memiliki norma. Tidak bisa juga kita sembarang menulis hanya karna ingin memuaskan diri kita akan hasrat menulis. Kecuali tulisan anorma tersebut adalah tulisan pribadi yang bukan untuk dikonsumsi massa.
Namun renungkanlah kawan, Tuhan-lah yang memilih siapa menuliskan apa dan pada saat apa. Tidak perlu kau takut untuk menuliskan apa yang ada dalam pikiranmu, tidak perlu berfikiran bahwa penerbit tidak akan menyukainya, tuliskan saja apa yang ada di pikiranmu. Tuliskan dan biarkan dirimu tenggelam hingga milyaran meter dalamnya. Galilah triliyunan kata.
Rangkaikanlah jutaan kalimat ke dalam apa yang ingin kamu tuliskan. Karena memang sesungguhnya Tuhan telah memilihmu untuk menuliskannya. Tidak usah khawatir tulisanmu jelek. Bila pendapat orang jelek, kamu pasti bisa memeperbaikinya, karena sesungguhnya tenggat waktu adalah permainan manusia, tidak akan pernah habis waktu jika kamu ingin memperbaiki tulisanmu, kecuali Tuhan yang mengambil waktu itu darimu.
Dan ketika Tuhan memilihmu untuk menuliskannya, bersyukurlah bahwa kamu telah menjadi satu dari sekian banyak manusia pilihanNya untuk menyampaikan sebuah pesan ke dunia ini. Nikmatilah kebahagiaanmu dan rayakanlah keberhasilanmu itu dangan membagi syukur dengan orang-orang di sekitarmu, yang memuji maupun yang mengkritikmu. Dan banggalah selalu pada dirimu karena telah menjadi orang pilihanNya.

 

Hai Wiyanto, Endang, Kembalilah menulis membela yang benar. Bukan Membela yang bayar! Apakah sudah surut idealisme mu meneliti dan berpikir jernih? Atau ente niat jual agama dan dirimu di Malang buat melayani nafsu setan Asbirin Maulana. Teliti kembali langkahmu. Sebelum terlambat!!.

Tuesday, January 7, 2014

Teroris Paling Berbahaya: Santoso dan Autad Rawa


Tim Densus 88 menggiring satu dari tiga tersangka teroris yang akan diterbangkan ke Jakarta, dari Mako Brimob Polda Sumut, di Medan. (sumber: Antara)
Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) menyatakan meskipun kelompok teroris saat ini terpecah dalam kelompok-kelompok kecil namun mereka tetap berafiliasi dengan dua kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Yaitu, Jamaah Ansoru Tauhid (JAT), dan Jamaah Islamiah (JI).
Hal ini dikatakan Ketua BNPT, Ansyad Mbai saat berbicara dalam diskusi bertema “Catatan Akhir Tahun 2013 Penanganan Terorisme dan Antisipasi Potensi Aksi Radikal Terorisme di Tahun 2014” di Jakarta Pusat, Kamis (19/12). Turut hadir Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Agus Surya Bahkti, Deputi Kerjasama Harry Purwanto, dan Deputi Penindakan Arief Dharmawan.
“Kalau dikristalkan, kelompok (yang ada saat ini) adalah kelompok Abu Omar. Abu Omar ini bukan JI dan JAT tapi dia NII meski antara ketiganya juga bukan terlalu beda karena JI itu sempalan NII. Buktinya Abu Bakar Baasyir (pernah) dalam posisi Menteri Kehakiman NII waktu dia membentuk JI. Abdulah Sungkar juga pernah menjabat Menlu NII. Tokoh-tokoh JI ini juga punya struktur di NII dan begitu ketahuan menjelma JAT. Jadi orangnya itu-itu juga,” ujar Harry.
Abu Omar ini diyakini membawahi dua kelompok besar yang dianggap paling aktif saat ini, yakni Abu Roban di bawah Majelis Mujahidin Indonesia Barat dan Santoso di bawah Majelis Mujahidin Indonesia Timur. Abu Roban telah tertembak mati sedangkan Santoso masih buron.
“Kelompok Abu Roban ini yang beraksi (fai) di Lampung, Jakarta, Bekasi, Jabar, Jateng, Jateng, dan Jatim. Dari sini terkumpul dana yang besar dan dana itu mengalir untuk melatih, merekrut, dan beraksi lagi. Latihannya di Poso dibawah Santoso dan Autad Rawa alias Sabar alias Daeng Koro. Dua orang itu berbahaya,” ungkap Ansyad.
Munculnya kedua nama itu, karena lumpuhnya JI semenjak tertangkapnya sejumlah pentolan mereka. Seperti Noordin M. Top yang tertembak mati sejak 2009, lalu Umar Patek, dan Dul Matin.
“Umar Patek dan Dul Matin yang sempat bersembunyi di Minadanao ini kan lalu masuk kembali ke Indonesia dan mereka sepakat reuni (membuat pelatihan militer) di Aceh. Siapa yang menggerakan ini semua ya ujung-ujungnya Abu Bakar Ba’asyir. Maka Ba’asyir kena telak penjara 15 tahun, “ sambung Ansyad.
Setelah pelatihan Aceh tercium polisi dan jaringan mereka diobrak-abrik, maka mereka kemudian melakukan fai dengan merampok bank CIMB Medan dan melakukan penyerangan Polsek Hamparan Perak.
“Nah dari sini sebagian ke Jakata dan di Jakarta lebih berkembang lalu muncul gagasan untuk membuat pusat pelatihan di Poso yang disponsori NII-nya Abu Omar itu. Abu Omar ini adalah ayah tiri Farhan yang (menembak polisi) di Solo. Di dalam NII Abu Omar ini juga ada kelompok Kodrat,” tambahnya.
Di Poso, Ansyad melanjutkan, kelompok yang datang berlatih datang dari  Solo, Jatim, dan Bima, NTB. Ada juga yang datang dari Makassar dan Ambon.

 Penulis: Farouk Arnaz/MUT

Wednesday, January 1, 2014

Memperingati HARI LAHIRNYA PANCASILA


Ketika saya ikut gerakan underground NII PISWA Arjosari Malang (perkumpulan Manunggal Bangsa Malang), Pancasila dianggap sebagai berhala besar yang harus dimusnahkan dan diganti dengan Al-Qur’an jika NII PISWA kelak meraih FUTUH MAKKAH (penggulingan rejim pemerintahan Indonesia), timbul sebuah pertanyaan: Apakah Pancasila saat ini masih relevan untuk disembah?

Bangsa Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa yang beragam baik dari segi suku, agama dan budaya. Perbedaan itu dipertentangkan secara tajam oleh Belanda sebagai sarana adu domba, agar tidak ada kekuatan pemersatu yang bisa mengancam penjajahan Belanda. Sama halnya dengan yang saya alami ketika tahun 1991 saya masuk dalam jeratan paham Darul Islam (DI-TII) yang di Singosari Malang dibawa Abang alias Asbirin Maulana alias Syatibi. Abang inilah yang membawa pemahaman baru (welt anschaung) bagi kami anak-anak muda yang haus akan daulah islamiyah yang bercermin pada perjuangan underground Negara Islam Indonesia (NII).

Pemahaman NII yang memperuncing perbedaan diantara ummat Islam di Indonesia dengan pisau analisis Al Furqon. Kami waktu itu diajari cara “membaca” atau membedakan antara orang mukmin dan orang kafir diantara rakyat Indonesia dengan 7 lapis materi indoktrinasi (disamarkan dengan istilah festival) selama 2 hari 3 malam.

Kehadiran golongan NII Pemerintahan Islam Sejuta Wali – PISWA (yang suka mengkafirkan masyarakat di luar kelompok NII karena tidak bersyahadat sesuai paham mereka) adalah bentuk hadirnya penjajah baru, dan pemecah belah persatuan rakyat Indonesia. Dimana hal ini merupakan ancaman bagi Pancasila khususnya sila ketiga persatuan Indonesia.

Pancasila, menurut Syahrir, merupakan sebuah ide dasar pembentukan masa depan negara Indonesia. Sebab itu,Pancasila tidak akan berbenturan dengan globalisasi maupun modernisasi. Nilai yang berbenturan dengan Pancasila adalah budaya kekerasan, budaya pecah belah, dan budaya westernisasi (kebarat-baratan). Ketiga budaya tersebut merupakan penghalang bagi modernisasi yang dicita-citakan para Founding Father negeri ini.

Jika globalisasi dijadikan sebagai alasan dari hancurnya nilai-nilai luhur bangsa, sebaliknya globalisasi yang didasarkan pada nilai Pancasila justru memperkuat jati diri bangsa. Globalisasi bukan semata-mata menelan budaya Barat secara mentah-mentah. Sebaliknya, globalisasi yang berarti hilangnya batas-batas antarnegara dapat dijadikan ajang promosi budaya luhur bangsa Indonesia.

Sebagai contoh argumen di atas, profesor-profesor di Harvard dan Yale University sering merujuk Indonesia dalam studi tentang konsep masyarakat majemuk yang toleran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia dengan falsafah dasar Pancasila mampu menjadi inspirasi dunia dalam mengembangkan masyarakat global yang plural, namun memiliki sikap toleransi yang tinggi. Dengan hadirnya konsep NII-PISWA yang memperuncing perbedaan diantara ummat Islam sendiri lebih-lebih kepada agama lain, tentunya jelas melahirkan benih-benih intoleransi, disharmoni dalam berbangsa dan beragama. Indonesia bukan negara Islam, karena tidak dibangun berdasarkan Al-Quran, namun oleh semangat kebangsaan dalam ragam agama, suku bangsa dan budaya.

Memaknai Pancasila sebagai dasar negara dapat membuat generasi muda menjadi lebih memiliki toleransi yang tinggi, tanpa perlu mengklaim diri sebagai islam sejati, tanpa harus membodohi ummatnya sendiri. Pancasila bukan sekadar simbol pemersatu. Ia esensi dari kebersamaan dan keberagaman yang ada di Indonesia.

BHIMA YUDHISTIRA ADHINEGARA
Mahasiswa Internasional Program, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Friday, December 6, 2013

Jejak Teroris di Indonesia: Dari NII, Bermuara di Abu Bakar Baasyir



Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta. Dia berperan sebagai penyelundup senjata dari Filipina Selatan.

Sementara Sartono adalah ayah kandung Farhan, teroris yang tewas dalam penyergapan di Solk September 2012 lalu. Farhan sendiri tergabung dalam Hisbah Solo yang merupakan sayap gerakan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir.

Kelompok ini berkembang ke Indonesia Timur seperti di NTB dan Sulawesi Selatan. Di Sulsel kelompok ini berupaya membunuh Gubernur Sulsel Yasin Limpo.

Di Poso kelompok ini membunuh dan mengguburkan satu liang dua polisi. Di Jakarta, sel ini melakukan perampokan di Tambora. Di Beji Depok, laboratorium perakitan bom dibuat.

"Kalau dikristalkan, Abu Omar bukan JI atau JAT, dia NII. Antara NII, JI, JAT sebetulnya bukan yang terlalu beda. JI sempalan NII. Abu Bakar Baasyir posisinya Menteri Kehakiman NII saat membentuk JI. Tokoh di JI ada kaitan dgn struktur NII. Begitu JI ketahuan menjelma JAT, barangnya itu-itu juga, tokohnya itu-itu juga," kata Ansyaad.

Menurut Ansyaad, kelompok teror kerap berganti-ganti nama kelompoknya. Hal ini demi menghindari kejaran petugas atau mengecoh penyelidikan aparat.

"Nama sekarang sudah tidak relevan, berbagai macam mereka gunakan nama untuk menghindari petugas. Yang jelas mereka kelompok teroris," tegas Ansyaad.

Indonesia, menurut Ansyaad, tergolong lunak dalam upaya pemberantasan terorisme. Dia membandingkan dengan pemerintah Malaysia yang menggunakan militer dalam operasi terorisme di Sabah beberapa waktu lalu.

Sementara Indonesia masih menggunakan pendekatan penegakkan hukum dengan menggedepankan kepolisian.

"Kita konsisten penegakan hukum," kata Ansyaad.

"Kita tidak memusuhi apa yang mereka perjuangkan, menegakan Syariat Islam. Kita semua muslim, menghormati itu. Kita tidak suka kekerasannya itu," ujar Ansyaad.

Friday, November 15, 2013

Menari di atas Telaga Jihad



Istilah terorisme jelas sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Meski demikian, kata tersebut tetap saja menyeramkan layaknya makna yang terkandung di dalamnya. Sebelum berbicara lebih lanjut, penulis perlu menyampaikan bahwa terorisme bukanlah milik salah satu agama tertentu, akan tetapi milik semua elemen, komunitas, dan kelompok yang menebarkan teror itu sendiri.
Akan tetapi di pikiran masyarakat umum, sudah terpatri bahwa terorisme merupakan milik salah satu agama yaitu Islam. Hal tersebut disebabkan maraknya kasi-aksi terorisme yang dilakukan kelompok-kelompok tertentu yang kebetulan berasal dari agama Islam.
Sering kita jumpai bahwa motif dibelakang aksi-aksi yang telah menyakiti umat Islam itu adalah motif agama, dengan kata lain ingin berjihad. Padahal seperti kita ketahui, semua agama tidak menghendaki kekerasan dan aksi teror, begitu juga dengan Islam. Islam merupakan agama yang menebarkan perdamaian dan bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Akan tetapi, dalam pemahaman beberapa kelompok akan ayat-ayat Allah dalam Al-quran cenderung dangkal dan tidak menyeluruh sehingga muncullah aksi-aksi teroris. Dengan mengatasnamakan jihad seakan-akan Islam halal untuk melakukan apa saja seperti teror, perampokan, pembunuhan, dan lain sebagainya.
Berbicara masalah jihad bukan hanya identik dengan kekerasan namun. Pada dasarnya jihad berarti perjuangan. Dalam aplikasinya, perjuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, bahkan seorang pelajar yang bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu pun dikatakan sedang berjihad. Sungguh ironis, jika ada kelompok yang berpikir bahwa jihad itu harus dengan pedang dan pertumpahan darah. Jihad hanya retorika semata jika dimaknai dengan sempit.
Jihad yang dilakukan oleh kelompok teroris hanya kepalsuan, karena dibalik itu para pemimpin-pemimpin teroris tersebut mempunyai tujuan yang sangat pribadi dan cenderung politis. Pemahaman jihad itu sudah dinodai dengan tindakan kekerasan sehingga berdampak pada citra umat Islam yang lain. Sungguh, para pelaku teror tersebut sedang menari di atas telaga jihad yang akan menenggelamkannya.
Perkembangan kasus terorisme di Indonesia dikatakan cukup dramatis dan tidak ada habis-habisnya. Mulai dari pemberiontakan DI/TII atau NII hingga terungkapnya kelompok teroris di Ciputat, Tangerang.
Sebagai bangsa yang besar seharusnya masalah ini dapat kita atasi dengan kerjasama antara masyarakat dan pihak penegak hukum serta memanfaatkan peran ulama untuk mencegah berkembangnya kelompok teroris di Indonesia. Peran umat Islam lainnya sangat dibutuhkan dengan menyebarkan dakwah yang benar tentang jihad dan perjuangan Islam sesuai ajaran yang benar.